Festival Peh Cun dan Museum Benteng Heritage, Tangerang

Sebagai keluarga keturunan Cina, keluarga saya dan suami adalah keluarga Cina KW3, karena kami benar-benar tidak paham dengan tradisi nenek moyang kami dan tidak menjalankan juga tentunya, termasuk tradisi Peh Cun.

Sabtu (20 Juni 2015) pagi, mama saya ribut mau cari bakcang di pasar karena ternyata hari itu adalah hari bakcang. “Ini temen-temen mama pada pasang foto bakcang, katanya hari ini hari bakcang, ayo kita makan bakcang!” Ujar mama saya. Saya langsung terbengong-bengong, “hah? Emang ada hari bakcang? Kok aku baru denger?” Dan benar saja, ketika saya mengecek Instagram, beberapa teman saya juga memasang foto bakcang lengkap dengan #bakcangday.

Akhirnya kami tidak jadi makan bakcang hari itu, karena kami kesiangan ke pasar dan semua bakcang sudah habis diborong!

Festival Peh Cun
Ternyata drama bakcang ini membawa kami pada keseruan festival Peh Cun. Berdasarkan informasi dari teman-teman mama tentang festival ini, pada hari Minggu siang terdamparlah kami di kota Tangerang.

Biasanya kami hanya main-main ke daerah Tangerang Selatan, sekarang kami benar-benar masuk ke kota Tangerang, yang ternyata tata kotanya begitu apik. Tersedia trotoar yang bisa dilalui oleh pejalan kaki, karena tidak dipenuhi oleh warung dan sepeda motor. Pohon-pohon besar nan rindang pun menghiasi sisi-sisi jalan. Dan yang paling membuat saya kagum adalah Sungai Cisadane yang bersih dan tidak terlihat perkampungan kumuh di bantaran sungai, walaupun airnya keruh berwarna coklat. Saya pun langsung menyimpulkan bahwa kota Jakarta sudah sangat kebanyakan penduduk, setiap jengkal kota Jakarta dipenuhi oleh orang yang mencari nafkah dan berjuang hidup di tengah kerasnya kehidupan ibukota, mengakibatkan tata kotanya menjadi amburadul dan sudah tidak nyaman lagi untuk ditinggali.

Kembali ke festival Peh Cun, festival ini diadakan di daerah Pasar Lama, tepat di tepi Sungai Cisadane. Pasar Lama ini kalau saya perhatikan seperti daerah pecinan, karena banyak warga keturunan Cina, atau yang disebut Cina Benteng, tinggal di daerah ini.

Tradisi Peh Cun sendiri dirayakan pada hari ke-5 bulan ke-5 penanggalan Cina, yang tahun ini jatuh pada tanggal 20 Juni penanggalan Masehi. Tradisi Peh Cun dirayakan dengan makan bakcang, perlombaan perahu naga, dan membuat telur berdiri.

Karena tidak terlalu banyak informasi yang kami dapatkan di internet mengenai festival Peh Cun ini, kami going blind saja. Sampai di daerah Pasar Lama, kami memutuskan untuk langsung parkir di pinggir jalan, di sisi Sungai Cisadane, dan berjalan kaki saja. Sebuah keputusan yang sangat tepat, karena festival Peh Cun diadakan di sebuah gang kecil, di antara rumah-rumah penduduk.

Banyak acara yang bisa dinikmati di festival Peh Cun ini, beberapa yang sempat kami lihat adalah perlombaan perahu naga di Sungai Cisadane, pertunjukkan barongsai dan liong, dan bazaar. Tapi lagi-lagi karena tidak ada informasi yang jelas mengenai waktu dan rundown acara, kami hanya menikmati sambil lalu saja. Ada juga pameran lukisan kaligrafi di Roemah Boeroeng Tangga Ronggeng, tapi baru buka pada jam empat sore, sehingga kami tidak sempat melihat.

1

Bazaar di antara rumah penduduk. Mungkin akan lebih ramai di malam hari.

2

Perlombaan perahu naga di Sungai Cisadane.

3

Museum Benteng Heritage
Highlight dari kunjungan kami ke kota Tangerang kemarin adalah Museum Benteng Heritage yang juga berlokasi di Pasar Lama. Literally berada di tengah-tengah pasar.

Setelah berputar-putar dan bertanya kepada banyak orang, akhirnya kami menemukan Museum ini juga, dan seperti yang saya sudah sebutkan, jalan depan museum ini adalah pasar tumpah! Tidak ada papan petunjuk satu pun, dan kondisi pasar yang ramai membuat museum ini hampir tak nampak dari depan.

7

Jalan di depan Museum Benteng Heritage di siang hari, setelah pasar tutup.

9

Tampak luar Museum Benteng Heritage setelah pasar tutup.

8

11

Pintu masuk Museum Benteng Heritage.

Begitu sampai di dalam museum, mama saya langsung bernostalgia karena suasana rumah, interior dan perintilan di dalamnya mengingatkan beliau akan masa kecilnya di Rembang. Saya sempat beberapa kali mengunjungi rumah masa kecil mama di Rembang, sebelum akhirnya rumah tersebut dijual, memang mirip dengan interior Museum Benteng Heritage ini.

Biaya tiket masuk Museum Benteng Heritage adalah Rp 20.000,- dan ada seorang pemandu yang akan mendampingi kunjungan kita di Museum Benteng Heritage. Sayang sekali pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil foto di dalam museum, tapi saya, sebagai Cina KW3 yang tidak begitu mengerti tradisi nenek moyang, belajar banyak di museum yang tidak terlalu besar ini, seperti: Mengapa pintu rumah tradisional Cina selalu ada palang perintang di bagian bawah? Untuk menghormati leluhur rumah tersebut (meja abu yang biasanya diletakkan tepat di depan pintu masuk), dengan adanya palang tersebut maka tamu yang akan masuk ke rumah akan menunduk ke bawah, memperhatikan palang, agar tidak tersandung. Posisi menunduk ini menandakan bahwa tamu menghormati leluhur rumah.

Siang itu kami dipandu oleh Desi, dan ia mulai menceritakan asal usul Museum Benteng Heritage. Museum Benteng Heritage bertempat di sebuah rumah yang memiliki arsitektur tradisional Cina dan merupakan salah satu bangunan tertua di kota Tangerang. Adalah Bapak Udaya Halim yang membeli rumah tersebut dan kemudian merestorasi bangunan dan menjadikannya sebagai museum Cina Peranakan pertama di Indonesia. Di dinding area resepsionis terdapat empat buah lukisan yang dibuat berdasarkan foto hitam putih milik kakek Bapak Udaya Halim. Lukisan tersebut menggambarkan suasana sekitar rumah Museum Benteng Heritage pada tahun 1950.

10

Area resepsionis.

12

Suasana Jl. Cilame, Pasar Lama, Tangerang, pada tahun 1950.

Kemudian kami diajak ke atas, ke area museum. Pengunjung diharuskan melepas alas kaki agar tidak merusak lantai kayu jati asli di lantai atas. Tangga menuju lantai dua cukup curam, jadi harus ekstra hati-hati ketika menaiki dan menuruni tangga ini.

Penjelasan pertama di area museum adalah mengenai kecap asli Tangerang, yaitu kecap Teng Giok Seng dan kecap SH, yang masih dibuat secara tradisional sampai sekarang. Kecap sendiri ternyata dibawa ke Indonesia oleh orang Cina, yaitu berupa kecap asin. Untuk mengakomodasi selera Indonesia, yang lebih suka rasa manis, maka kecap asin tersebut dicampur dengan gula jawa, sehingga lahirlah kecap manis.

Di ruang tengah terdapat poster besar mengenai Laksamana Cheng Ho, berikut replika kapal beliau, The Treasure Ship. Hal ini berhubungan dengan asal usul warga Cina Tangerang (Cina Benteng) yang bermula dari kedatangan rombongan kapal Laksamana Cheng Ho di Teluk Naga pada tahun 1407. Chen Ci Lung, salah satu anak buah Laksamana Cheng Ho, kemudian menetap di Tangerang dan menikah dengan penduduk pribumi, dan lahirlah keturunan mereka yang disebut dengan istilah Cina Peranakan, karena itulah kebanyakan warga Cina Benteng berkulit sawo matang. Dan kenapa dinamakan Cina Benteng, karena pada jaman dahulu terdapat sebuah benteng di Sungai Cisadane, yang dibangun oleh pemerintah Belanda untuk mempertahankan diri dari serangan Kesultanan Banten.

Yang menarik dari arsitektur rumah tua ini adalah relief keramik di void area, yang menggambarkan salah satu adegan dari cerita Tiga Kerajaan (Sam Kok). Relief tersebut merupakan bagian asli dari rumah. Awalnya relief tersebut tertutup debu yang menumpuk selama ratusan tahun, dan hanya berwarna hitam, pemilik Museum Benteng Heritage bahkan tidak tahu tentang keberadaan relief ini, ketika proses restorasi berlangsung relief keramik ini dengan tidak sengaja ‘ditemukan’.

1639110patungg2780x390

Klik foto untuk sumber gambar.

Di pojok kanan area museum adalah area yang didedikasikan untuk tradisi pernikahan Cio Tao, yaitu tradisi pernikahan khas Cina Benteng. Terus terang saya baru pertama kali mendengar tradisi pernikahan ini. Tradisi pernikahan ini sangat unik, karena merupakan asimilasi budaya Cina dan Betawi, yang terlihat dari busana pengantin wanita. Jaman dahulu, ketika sepasang pengantin sudah melaksanakan pernikahan Cio Tao ini, maka mereka sudah sah menjadi suami istri (tanpa perlu dilakukan pencatatan sipil atau pernikahan secara agama). Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pernikahan Cio Tao, Anda bisa melihat video berikut ini:

Selain beberapa poin menarik di atas, di museum ini terdapat banyak barang-barang kuno yang dulu digunakan oleh orang Cina, seperti: penimbang opium; sepatu khusus wanita kerajaan Cina yang berukuran sangat kecil, seperti sepatunya DM; kamera-kamera kuno, dll.

Di akhir kunjungan, kami mampir ke toko suvenir dan membeli Kecap Benteng dan Kecap SH. Lumayan untuk masak, biasanya kecap-kecap daerah seperti ini lebih enak daripada kecap bermerek yang dijual di supermarket. Saya juga dapat sebuah kebaya encim cantik berwarna kuning dengan harga yang cukup terjangkau.

Saya sangat menikmati kunjungan ke Museum Benteng Heritage, karena benar-benar menambah pengetahuan saya tentang budaya leluhur. Kalau DM sih sangat tidak tertarik, beberapa kali ia kebosanan dan meminta pulang. Kunjungan ke museum seperti ini memang lebih cocok dilakukan oleh anak yang lebih besar. Tapi toh tidak ada salahnya memperkenalkan konsep museum kepada balita, bahkan saya berencana mau mengajak DM mengunjungi Museum Nasional dengan naik bus Trans Jakarta.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Museum Benteng Heritage, berikut adalah petunjuk jalan yang bisa Anda ikuti.

1. Ikuti petunjuk jalan di Google Maps sampai di tepi Sungai Cisadane.
2. Jika Anda membawa mobil, parkirlah di pinggir jalan, di daerah sekitar mural ini:

4

Salah satu mural keren di tepi Sungai Cisadane.

3. Tidak jauh dari mural tersebut, terdapat bangunan kuning Roemah Boeroeng Tangga Ronggeng, masuklah ke gang kecil di sebelah bangunan kuning tersebut.

5

Bangunan berwarna kuning ini adalah Roemah Boeroeng Tangga Ronggeng.

4. Ketika sampai di perempatan pertama, belok kiri. Anda akan sampai di jalan seperti di foto pertama di atas.

5. Jalan terus, Anda akan sampai di Kelenteng Bon Tek Bio, belok kanan, kemudian belok kiri persis di sebelah Kelenteng.

6

Kelenteng Boen Tek Bio.

6. Museum Benteng Heritage berada di sisi kiri jalan.

Catatan: Jika jalan kecil di sebelah Roemah Boeroeng Tangga Ronggeng ditutup, majulah sedikit, Anda akan menemukan sebuah gang di sebelah kanan. Masuki gang tersebut, kemudian belok di gang pertama di sebelah kanan. Teruslah berjalan, Kelenteng Boen Tek Bio akan berada di sisi kiri Anda.

Selamat menyelami kehidupan masyarakat Cina di masa lampau!

Museum Benteng Heritage
Jl. Cilame nomor 20, Pasar Lama
Tangerang 15118, Banten – Indonesia
Tel/SMS: +622155791139 / +622144544529
email : info@bentengheritage.com

Jam Buka: Selasa-Minggu Pk. 10.00-17.00, Senin Libur

Advertisements

4 thoughts on “Festival Peh Cun dan Museum Benteng Heritage, Tangerang

  1. leonyhalim says:

    Ngel, si M kagak ngeliat sesuatu pas muter2 di daerah dalam rumahnya? Soalnya gue pernah ada denger suasananya agak gloomy gitu ya pas masuk dalam rumah? Suka deg2an kalau heritage tour di tmpt bersejarah hehehe. Tapi asli, bagus banget ya kebudayaan kita itu, beragam sekali! Elu beli kecap Benteng ga pulangnya?

    Like

    • restlesslittlefeet says:

      Dia nggak bilang apa-apa sih Le, cuma emang agak rungsing ngajak pulang melulu. Nggak tau karena emang dia liat sesuatu, atau emang karena dia lagi capek aja, karena udah waktunya napping.

      Rumahnya emang gloomy gitu, ya namanya juga rumah tua. Gue juga bilang ke D, kalo creepy juga ya tinggal di sini hahahaa… Tapi bagus banget sih, nambah pengetahuan.

      Tentu saja beli kecap Benteng, tapi belum dicoba karena kecap yang lama belum abis.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s